Dari Anak Dusun ke Rusia, Kisah Winata Kusuma Menulis Di Bawah Reaktor Salju

Moskow, awal 2026. Suhu di luar ruangan bisa turun hingga minus 35 derajat Celcius. Di tengah dinginnya ibu kota Rusia, Winata Kusuma justru sedang berhadapan dengan dua pekerjaan yang sama-sama membutuhkan konsentrasi.

Di layar komputer perpustakaan MEPhI, ia berkutat dengan kode GETERA-93, simulasi reaktor, dan analisis bahan bakar MOX. Namun, di dokumen lain, Winata sedang menyusun sesuatu yang jauh lebih personal: potongan-potongan perjalanan hidupnya sendiri.

Dua dunia tersebut berjalan beriringan.

Di satu sisi, Winata sedang menyelesaikan perjalanan akademiknya di bidang teknologi nuklir. Di sisi lain, ia mencoba mengubah pengalaman, perjuangan, kenangan masa kecil, hingga perjalanan dari Indonesia menuju Rusia menjadi sebuah manuskrip.

Manuskrip itulah yang kemudian berkembang menjadi buku berjudul Di Bawah Reaktor Salju.

Bagi Winata, menulis buku bukan sekadar mencatat pencapaian. Ada pengalaman yang ingin ia abadikan, ada sosok yang ingin ia hormati, dan ada pesan yang ingin diteruskan kepada orang-orang yang mungkin sedang berada di titik awal perjalanan mereka sendiri.

Dari Anak Dusun hingga Menempuh Pendidikan di Rusia

Perjalanan Winata tidak dimulai dari laboratorium berteknologi tinggi atau ruang kuliah di Moskow. Ia tumbuh dengan berbagai keterbatasan yang justru perlahan membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan dan kehidupan.

Salah satu filosofi Jawa yang terus ia pegang adalah “Urip Iku Urup.” Hidup adalah nyala. Dan sebuah nyala, sekecil apapun, seharusnya dapat memberi terang bagi orang lain.

Filosofi tersebut kemudian menjadi salah satu pegangan Winata dalam menempuh pendidikan. Pada 2012, ia berhasil masuk STTN-BATAN Yogyakarta. Tujuh tahun kemudian, langkahnya membawanya lebih jauh ketika memperoleh Beasiswa Pemerintah Rusia dan melanjutkan pendidikan di MEPhI.

Perjalanan Indonesia–Rusia tentu bukan sekadar perpindahan ribuan kilometer. Ada proses beradaptasi dengan bahasa, budaya, cuaca, tuntutan akademik, kehidupan sebagai perantau, hingga tekanan untuk tetap bertahan jauh dari keluarga.

Namun, dari perjalanan panjang itulah muncul sebuah kesadaran. Pencapaian mungkin akan terasa lebih berarti jika pengalaman di baliknya tidak berhenti sebagai cerita pribadi.

Ada perjuangan yang bisa dibagikan. Ada kegagalan yang bisa menjadi pelajaran. Ada strategi yang mungkin membantu orang lain. Bahkan pengalaman yang sebelumnya terasa sederhana dapat menjadi sesuatu yang berarti ketika disusun dan diceritakan kembali.

Kesadaran itulah yang kemudian mendorong Winata mulai menuliskan perjalanan hidupnya hingga lahir Di Bawah Reaktor Salju, sebuah karya yang kemudian diterbitkan bersama Bukunesia.

Mengapa Pengalaman Hidup Perlu Ditulis?

Tidak semua orang merasa perjalanan hidupnya layak menjadi sebuah buku. Sebagian menganggap pengalaman pribadi terlalu biasa. Sebagian lainnya merasa belum memiliki pencapaian besar yang pantas untuk diceritakan.

Namun, pengalaman Winata menunjukkan bahwa sebuah buku tidak selalu harus dimulai dari keinginan untuk menceritakan kesuksesan.

Justru, cerita dapat menjadi lebih bermakna ketika pembaca mengetahui proses panjang yang terjadi sebelum sebuah pencapaian diraih.

Dalam perjalanan Winata, setidaknya ada tiga alasan utama yang kemudian menjadi fondasi lahirnya buku tersebut.

Ibu Menjadi Alasan Pertama

Di balik perjalanan seorang anak hingga mampu menempuh pendidikan lintas negara, sering kali terdapat perjuangan keluarga yang tidak terlihat dalam daftar prestasi. Bagi Winata, sosok tersebut adalah ibunya.

Perjalanan menuju Rusia bukan hanya hasil dari usaha pribadinya. Ada doa, pengorbanan, kerja keras, dan dukungan seorang ibu yang ikut berada di balik setiap langkahnya.

Karena itu, buku yang ia tulis juga menjadi semacam prasasti personal. Sebuah cara untuk mencatat bahwa perjalanan seseorang tidak pernah sepenuhnya berdiri sendiri.

Ada orang-orang yang mungkin tidak pernah hadir di panggung ketika sebuah pencapaian dirayakan, tetapi memiliki peran besar sejak perjalanan itu bahkan belum dimulai.

Untuk Mereka yang Masih Takut Bermimpi

Alasan kedua berkaitan dengan orang-orang yang merasa cita-citanya terlalu jauh dibandingkan kondisi yang mereka miliki saat ini. Keterbatasan fasilitas, kondisi ekonomi, lingkungan, maupun akses pendidikan sering kali membuat seseorang mengecilkan mimpinya sendiri.

Winata ingin menunjukkan bahwa keterbatasan tidak selalu berarti jalan telah tertutup. Ada beasiswa yang bisa dicari. Ada kesempatan yang bisa diperjuangkan. Ada pintu yang mungkin baru terbuka setelah diketuk berkali-kali.

Perjalanan menuju pendidikan di Rusia memang tidak mudah. Namun, justru proses tersebut yang ingin ia bagikan kepada generasi berikutnya.

Bukan untuk mengatakan bahwa setiap perjalanan akan berakhir sama, melainkan untuk menunjukkan bahwa titik awal seseorang tidak selalu menentukan seberapa jauh ia dapat berjalan.

Mengenalkan Sisi Lain Teknologi Nuklir

Alasan ketiga berkaitan dengan bidang yang ia tekuni: teknologi nuklir. Bagi sebagian masyarakat, kata “nuklir” sering kali langsung diasosiasikan dengan sesuatu yang berbahaya atau menakutkan. Winata ingin memperlihatkan sisi yang lebih luas.

Teknologi nuklir juga merupakan bidang ilmu yang dapat dikembangkan untuk berbagai kepentingan dan kebermanfaatan manusia apabila dipelajari serta dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

Di Rusia, ia mempelajari dunia tersebut melalui persamaan, simulasi, kode komputer, hingga analisis bahan bakar nuklir.

Karena itu, Di Bawah Reaktor Salju bukan hanya berbicara mengenai perjalanan personal, tetapi juga memperkenalkan dunia akademik yang mungkin masih terasa jauh bagi sebagian pembaca Indonesia.

Menulis Buku di Tengah Dinginnya Moskow

Proses mengubah pengalaman menjadi manuskrip ternyata tidak kalah menantang dibandingkan perjalanan hidup itu sendiri. Beberapa bab dalam buku Winata lahir setelah Ia menghabiskan waktu berjam-jam mengerjakan simulasi reaktor di MEPhI.

Setelah menyelesaikan pekerjaan akademik yang penuh angka dan perhitungan, Ia berpindah pada dokumen lain yang membutuhkan jenis konsentrasi berbeda. Kali ini bukan rumus yang harus ia pecahkan, melainkan ingatan.

Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di negara tropis, menghadapi musim dingin Rusia menjadi pengalaman tersendiri. Ketika suhu mencapai minus 35 derajat Celcius, tangan dapat terasa kaku saat mengetik.

Namun, dingin bukan satu-satunya tantangan. Menulis kisah pribadi berarti membuka kembali beberapa bagian masa lalu yang sebelumnya tersimpan lama. Ada pengalaman menyenangkan, tetapi ada pula kenangan traumatis yang membutuhkan keberanian untuk kembali dituliskan.

Di sinilah proses menulis menjadi lebih dari sekadar menyusun kalimat. Winata harus menentukan pengalaman mana yang perlu diceritakan, apa makna yang ingin disampaikan, dan bagaimana sebuah perjalanan panjang bisa dipahami oleh orang yang tidak pernah mengalami kehidupan yang sama dengannya.

Beberapa Halaman Justru Lahir di Dapur Asrama

Tidak seluruh proses penulisan terjadi di perpustakaan atau ruang akademik. Sebagian halaman Di Bawah Reaktor Salju justru lahir dari tempat yang jauh lebih sederhana: dapur asrama lantai empat.

Di sela-sela mengulek sambal untuk usaha ayam geprek yang ia jalankan demi membantu kehidupan selama di tanah rantau, Winata menyempatkan diri menulis.

Aroma cabai, bawang, dan masakan Indonesia memenuhi ruangan kecil di tengah dinginnya Moskow.

Suasana tersebut mungkin jauh dari gambaran ideal seorang penulis yang duduk tenang di ruang kerja. Namun, justru di situlah sebuah buku benar-benar dibangun.

Sedikit demi sedikit. Di sela kuliah. Di antara pekerjaan. Setelah menyelesaikan tanggung jawab akademik. Kemudian kembali menulis ketika waktu memungkinkan.

Proses tersebut sekaligus menunjukkan bahwa menulis buku tidak selalu membutuhkan kondisi sempurna. Sering kali yang lebih dibutuhkan adalah keberanian memulai dan konsistensi untuk kembali pada manuskrip setelah berbagai kesibukan selesai.

Dari Pengalaman Menjadi Manuskrip

Buku tersebut tentu tidak selesai dalam satu malam. Winata menulis selembar demi selembar di tengah jadwal kuliah, kehidupan asrama, pekerjaan, dan berbagai tanggung jawab akademik.

Terkadang proses penulisan harus berhenti karena ada tugas lain yang lebih mendesak. Setelah semuanya selesai, ia kembali membuka manuskrip dan melanjutkan cerita. Begitu seterusnya, hingga menjelang pertengahan 2026, manuskrip tersebut akhirnya selesai.

Momentum itu datang hampir bersamaan dengan salah satu fase penting perjalanan akademiknya, ketika Winata mempertahankan investigasi mengenai siklus bahan bakar nuklir di hadapan para profesor di Rusia.

Dua karya seolah berjalan beriringan. Satu lahir dari proses akademik yang sangat teknis. Satu lagi lahir dari pengalaman manusiawi yang jauh lebih personal.

Namun, keduanya memiliki satu kesamaan: sama-sama membutuhkan proses panjang, disiplin, dan ketekunan.

Ketika Cerita Tidak Lagi Berhenti sebagai Kenangan

Banyak orang sebenarnya memiliki bahan untuk menulis sebuah buku tanpa menyadarinya. Pengalaman membangun usaha, perjalanan pendidikan, perjuangan karier, kegagalan, pengalaman keluarga, aktivitas sosial, pemikiran, hingga keahlian yang dikembangkan selama bertahun-tahun dapat menjadi bahan sebuah karya.

Yang sering kali menjadi tantangan adalah bagaimana pengalaman tersebut disusun menjadi sebuah cerita yang utuh. Winata memilih membukukan perjalanannya karena ia tidak ingin semua pengalaman tersebut berhenti sebagai kenangan pribadi.

Melalui Di Bawah Reaktor Salju, pembaca dapat mengikuti perjalanan seorang anak dari Indonesia yang perlahan menemukan jalannya menuju dunia teknologi nuklir di Rusia.

Tetapi yang lebih penting, perjalanan tersebut kini dapat terus dibaca bahkan setelah sebuah fase kehidupan selesai. Di situlah salah satu kekuatan buku.

Cerita yang sebelumnya hanya hidup dalam ingatan seseorang dapat berubah menjadi karya yang bisa berpindah dari satu pembaca kepada pembaca lainnya.

“Urip Iku Urup”, Menjadi Nyala bagi Orang Lain

Pada akhirnya, perjalanan Winata kembali pada filosofi yang telah lama ia pegang.

Urip Iku Urup.

Hidup adalah nyala.

Pendidikan yang diperoleh tidak harus berhenti sebagai gelar. Pengalaman tidak harus berhenti sebagai kenangan. Pengetahuan tidak harus berhenti pada seseorang yang menguasainya. Dan sebuah perjalanan hidup dapat memiliki usia yang lebih panjang ketika berhasil dituangkan ke dalam tulisan.

Winata mungkin tidak mengetahui siapa saja yang kelak akan membaca bukunya. Bisa jadi hanya satu pembaca yang merasa kembali memiliki keberanian untuk bermimpi setelah mengetahui perjalanannya.

Namun, terkadang satu orang sudah cukup menjadi alasan mengapa sebuah pengalaman perlu dituliskan. Sebab, tidak semua buku harus lahir untuk mengubah dunia.

Beberapa buku cukup hadir untuk mengingatkan seseorang bahwa jalan lain masih mungkin ditemukan, bahkan ketika titik awalnya terasa sangat jauh dari tujuan.

Pengalamanmu Juga Bisa Menjadi Sebuah Buku

Tidak semua orang harus belajar teknologi nuklir atau menempuh perjalanan hingga Rusia untuk memiliki cerita yang layak ditulis. Setiap orang memiliki pengalaman, sudut pandang, pengetahuan, maupun perjalanan yang berbeda.

Ada yang menemukannya melalui pekerjaan. Ada yang memperolehnya dari perjalanan membangun bisnis. Ada pula yang menyimpannya dalam kisah keluarga, pengalaman hidup, pemikiran, atau karya kreatif.

Pertanyaannya bukan selalu apakah pengalaman tersebut cukup luar biasa. Pertanyaannya adalah apakah pengalaman tersebut memiliki sesuatu yang layak dibagikan kepada orang lain.

Di Bawah Reaktor Salju menjadi salah satu contoh bagaimana pengalaman personal dapat berkembang menjadi manuskrip dan kemudian hadir dalam bentuk buku yang dapat dibaca lebih luas.

Bagi kamu yang sudah memiliki ide maupun manuskrip fiksi atau nonfiksi umum populer dan ingin mengubahnya menjadi buku, kamu dapat mengenal lebih jauh Layanan Penerbit Bukunesia.

Karena terkadang sebuah pengalaman tidak hanya perlu dikenang. Ia juga layak dituliskan, diterbitkan, dan diteruskan kepada pembaca berikutnya.

Bagikan kisah inspiratif ini kepada temanmu

Cari Artikel Lainnya

Rekomendasi Artikel

Scroll to Top